google-site-verification=82PdpwdCu4bGf44-_1RqOUmGCL486EA2zsKIthhSql8

Selasa, 19 April 2016

Ekonomi Tumbuh Picu Penjahat Cyber Incar Indonesia


Jakarta - Dari hitung-hitungan bisnis, pertumbuhan ekonomi berarti positif. Tapi di mata penjahat cyber beda lagi, pertumbuhan positif tersebut dilihat sebagai peluang untuk menyebar lebih banyak ancaman.

Atas dasar itu Indonesia lantas menjadi salah satu negara di daftar teratas yang menjadi incaran penjahat cyber. Alasannya karena ketika ekonomi dunia melemah, Indonesia malah menunjukkan pertumbuhan Growth Domestic Product (GDP) di tahun 2015 lalu.

Menurut data yang dibeberkan Symantec, Indonesia kini menempati urutan nomor lima sebagai negara yang paling banyak malicious code-nya. Posisi ini meningkat dari yang tadinya rangking ketujuh dunia, sekaligus membuktikan kalau Indonesia menjadi salah satu sasaran utama ancaman cyber.

"(Alasannya) karena ekonomi stabil, pertumbuhan smart mobile juga pesat (di Indonesia). Dari 100 juta smartphone yang dikapalkan di Asia, 29% terjual di pasar (Indonesia). Terbesar di Asia, yang berarti ancaman cyber-nya juga semakin besar," kata Halim Santoso, Director Systems Engineering ASEAN Symantec, di Hotel Intercontinental, Jakarta.

Selain itu sebagai populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia menyimpan daya tariknya sendiri. Tumbuhnya konsumsi internet seiring dengan jumlah pengguna Facebook di Indonesia yang sekarang telah mencapai 69 juta akun. Begitu juga pengguna Twitternya sebagai yang paling banyak di dunia. Menjadikan Indonesia berpotensi besar memberikan banyak korban untuk penjahat cyber.

Kata Symantec, untuk urusan tipu-tipu di media sosial, Indonesia kini menempati rangking ke 10 di seluruh Asia Pasifik dan Jepang. Sedangkan untuk ukuran global, Indonesia menempati peringkat 45 sebagai negara yang paling banyak scam di media sosial.

Kembali ke GDP, sektor manufaktur disebut-sebut sebagai salah satu pendorong utama tumbuhnya GDP di 2015. Berdasarkan itu, sektor manufaktur lantas menjadi industri yang paling menjadi incaran penjahat cyber di Indonesia.

Metode paling umum yang dipakai dalam skala global adalah menggunakan malware. Saking banyaknya, peningkatan varian malware menunjukkan angka mengejutkan untuk tahun 2015 lalu. Kata Symantec, tercatat ada 430 juta varian malware baru yang ditemukan sepanjang 2015.

"Mereka (penjahat cyber-red) memiliki sumber daya yang besar dan staf teknis yang sangat terampil, dan juga bisa beroperasi secara efisien," pungkas Halim.
(yud/ash) detik
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: