google-site-verification=82PdpwdCu4bGf44-_1RqOUmGCL486EA2zsKIthhSql8

Sabtu, 07 Desember 2013

Empat Pilar Kebahagiaan Rumah Tangga

“Demi masa. Sesungguhnya
manusia itu benar-benar berada
dalam kerugian, kecuali orang-
orang yang beriman dan
mengerjakan amal shalih dan
nasihat-menasihati supaya
menaati kebenaran dan nasihat-
menasihati supaya menetapi
kesabaran.”
(QS Al ‘Ashr [103]: 1-3)
Surat Al-‘Ashr yang sangat
singkat ini memuat suatu hal
yang amat besar. Tiga ayat
pendek tersebut
mendeskripsikan sistem yang
integral dan universal bagi
kehidupan umat manusia
sebagaimana yang diinginkan
oleh Islam. Sekaligus,
menawarkan empat pilar
kebahagiaan duniawidan
ukhrawi bagi individu dan
keluarga, dalam kalimat-kalimat
singkat yang mudah dimengerti.
Ayat-ayatnya memang singkat,
namun begitu mendalam dan
luas kandungannya. Sampai-
sampai Imam Asy Syafi’i
rahimahullah
pernah berkata, “Seandainya
manusia benar-benar
mentadabburi surat ini, niscaya
cukuplah ia menjamin
kebahagiaan mereka” (Tafsir
Ibnu Katsir IV/582). Dalam
riwayat lain beliau berkata,
“Seandainya tidak diturunkan
surat lain selain surat Al ‘Ashr
ini, niscaya cukup bagi
manusia” (Tafsir Ruuhu’l
Ma’aani XXX/227).
Dalam kajian Sayyid Quthb
rahimahullah, surat yang
termasuk golongan surat
makkiyah ini memberi
pemahaman kepada kita bahwa
sepanjang sejarah umat manusia
di mana dan kapan saja hanya
ada satu sistem (manhaj) yang
menguntungkan dan
membahagiakan, yang
memberikan kemenangan dan
keselamatan. Yaitu sistem yang
batasan-batasan dan rambu-
rambunya digambarkan secara
jelas dalam surat ini. Berarti,
sistem selain ini akan
menjerumuskan ke dalam
kehancuran, kesengsaraan dan
kerugiaan pada semua aspek
kehidupan di dunia dan di
akhirat (
Fii Zhilal Al-Qur’an VI/3964). Tak
terkecuali aspek rumah tangga.
Keempat pilar kebahagiaan
rumah tangga yang ditawarkan
oleh surat Al-'Ashr adalah:
1. Iman
Iman adalah mutiara yang
menambah bobot nilai dan
harga serta meninggikan derajat
seseorang dan keluarga di sisi
Allah swt. Sebesar apa pun
kekayaan seseorang, setinggi
apa pun jabatan seseorang
dalam suatu institusi/
pemerintahan, sehebat apa pun
kejeniusan seseorang bila tanpa
iman, maka di sisi Allah ia sama
sekali tidak bernilai meskipun
seluruh dunia mengagumi dan
mengagungkannya. Perhatikan
firman Allah pada QS Al-
Baqarah (2): 221.
Maka, rumah tangga terbaik
dalam perspektif Al-Qur'an
adalah rumah tangga yang
dibangun atas dasar iman.
Rumah tangga yang senantiasa
menghadirkan suasana dan
nuansa keimanan dalam seluruh
aktivitasnya.
Dan Allah hanya akan
menganugerahkan kehidupan
yang bahagia kepada hamba-
hamba-Nya yang mendasari
seluruh amal dan kegiatannya
dengan iman, sebagaimana
ditegaskan dalam firman-Nya,
“Barangsiapa yang mengerjakan
amal shalih, baik laki-laki
maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan Kami
berikan kepadanya kehidupan
yang baik (bahagia) dan
sesungguhnya akan Kami beri
balasan kepada mereka dengan
pahala yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan”
(QS An-Nahl [16]: 97). Lihat juga
QS Al-A’raaf (7): 96.
Tentu saja, keimanan yang kita
maksud di sini bukanlah
keimanan yang parsial, sebatas
di bibir saja seperti keimanan ala
orang munafik (Lihat QS Al-
Baqarah [2]: 8, Al-Munaafiquun
[63]: 1-3). Atau keimanan
sekadar keyakinan dalam hati
sebagaimana dinyatakan Iblis
yang telah meyakini Allah
sebagai sang Pencipta (Lihat QS
Shaad [38]: 76). Melainkan
keimanan yang utuh dan
menyeluruh dengan segala
dimensinya, sehingga mampu
menghadirkan kekuatan
hubungan dengan Allah di
mana, kapan saja dan dalam
kondisi apa pun.
2. Amal shalih
Keimanan yang sejati berbuah
amal shalih. Amal shalih bisa
berbentuk ibadah
mahdhah dan ghairu mahdhah.
Karenanya, ulama tafsir
mengartikan amal shalih yaitu
melaksanakan semua kewajiban
yang diperintah syariat (agama)
dan meninggalkan semua
bentuk maksiat serta melakukan
berbagai macam kebajikan (
At Tafsir Al Munir, Az Zuhaili
XXX/395).
Maka, beragam aktivitas
keluarga yang dapat
mendekatkan diri anggota
keluarga tersebut kepada Allah,
maka aktivitas itu termasuk amal
shalih. Rekreasi, silaturrahim,
olah raga keluarga, dan lain-
lain, semuanya bisa masuk
dalam kategori amal shalih jika
dapat meningkatkan kualitas
keimanan dan ketakwaan
kepada Allah.
3. Proaktif mendakwahkan
Islam (At Tawaashi bil Haq)
Kedua pilar di atas (iman dan
amal shalih) hanya
mengantarkan kepada shalih
untuk diri sendiri (
Shaalihun Li Nafsihi) yang pada
gilirannya tidak menjamin
kebahagiaan di dunia dan
akhirat. Sebab, Allah tidak
menciptakan
hanya seorang manusia,
melainkan komunitas manusia
yang terdiri dari laki-laki dan
perempuan dan menjadikan
mereka berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku (QS Al-Hujuraat
[49]: 13).
Karena itu kesempurnaan
seorang Muslim dan
kebahagiaannya sangat
tergantung sejauh mana ia
mampu menularkan keshalihan
individual menjadi keshalihan
sosial. Shalat kita misalnya, baru
akan sempurna manakala shalat
ini mampu membuahkan
dampak sosial yang positif bagi
kehidupan kita (baca:
Naafi’un Lighairihi, bermanfaat
bagi orang lain). Dalam bahasa
Al-Qur’an, mampu mencegah
dari perbuatan-perbuatan keji
dan munkar (QS Al-‘Ankabuut
[29]: 45).
Untuk itulah Rasulullah saw
menegaskan dalam haditsnya,
bahwa manusia yang terbaik di
jagat raya ini adalah yang
bermanfaat untuk orang lain (
Khairunnaas anfa’uhum linnaas)
.
Beliau saw juga pernah ditanya,
“Islam apa yang terbaik?”Beliau
menjawab, “Yaitu orang Islam
yang orang lain selamat (aman)
dari (gangguan) lisan dan
tangannya” (HR Bukhari).
Maka, membudayakan saling
menasihati dalam rumah tangga
adalah pilar kebahagiaan suatu
keluarga. Sebab, membiarkan
keburukan, kemaksiatan dan
pelanggaran terhadap ajaran
Islam merajalela dalam rumah
tangga kita, maka berarti sama
saja kita membiarkan munculnya
banyak lubang dalam 'kapal'.
Akhirnya, cepat atau lambat
akan menenggelamkan kita dan
seluruh anggota keluarga besar
kita. Karenanya, proaktif
mendakwahkan atau
menularkan kebaikan kepada
sesama anggota keluarga akan
mengantarkan keluarga kepada
kebahagiaan di dunia dan
akhirat.
4. Sabar
Mempraktikkan ketiga pilar di
atas dalam kehidupan rumah
tangga bukan perkara yang
mudah. Pasti, dan tidak bisa
tidak, akan menghadapi
berbagai macam ujian dan
cobaan yang bisa datang dalam
berbagai bentuk. Bahkan
terkadang pertentangan dan
perlawanan sengit justru muncul
dari keluarga. Bukankah Nabi
Muhammad ketika
mendakwahkan Islam dan
menyebarkan kebaikan, juga
dihadang dan dihalang-halangi
Abu Lahab, yang nota bene
adalah paman beliau saw.
Tribulasi dalam mewujudkan
iman, amal shalih dan dakwah
adalah sebuah keniscayaan
karena ia
sunnatullah dalam ber-Islam.
Allah berfirman, “Apakah
manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: ‘Kami telah
beriman’, sedang mereka tidak
diuji lagi? Dan sesungguhnya
Kami telah menguji orang-orang
yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui
orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui
orang-orang yang dusta”
(QS Al ‘Ankabuut [29]: 2-3).
Mengharapkan kebahagiaan
rumah tangga tanpa kesabaran,
sama saja mengharapkan
hadirnya gagak putih. Mustahil.
Wallaahu A’lam. (Ahmad
Khusyairi Suhail, MA)
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: